BAB IV
DESAIN-DESAIN INTRUKSIONAL
Desain interaksional tersusun dari dua kata yaitu “ desain” dan instruksional, desain atau pola rencana pendahuluan. Sedangkan instruksional berarti pengajaran. Desain intruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut termasuk di dalamnya paket pelajaran kegiatan uji coba, revisi dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar.
Desai instruksional atau pembelajaran adalah membantu seseoarang untuk belajar, dan merupakan sistem. Menurut Briggs, sistem adalah rencana kerja yang terpadu dari semua komponen sistem yang dirancang untuk memecahkan suatu masalah/memenuhi kebutuhan tertentu. Sebuah sistem mempunyai ciri-ciri :
1. mempunyai tujuan
2. tujuan tersebut dapat dijabarkan ke dalam fungsi-fungsi
3. mempunyai komponen untuk menjalankan fungsi tersebut
4. sistem di kelilingi oleh sistem yang lain (tidak berdiri sendiri)
5. sistem selalu menjalankan proses informasi
6. komponen sistem saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain
7. sistem mempunyai mekanisme umpan balik
8. sistem bersifat relatif, sebab bergantung kepada situasi/lingkungan
A. Model Pengembangan Instruksional Briggs
Model pengembangan instruksional Briggs ini berdasarkan pada prinsip keselarasan anatar :
1) Tujuan yang akan dicapai (mau kemana?)
Dalam langkah ini Briggs menggunakan pendekatan bertahap yaitu: mengidentifikasi tujuan kurikulum secara umum dan luas, menentukan prioritas tujuan, mengidentifikasi kebutuhan kurikulum baru dan menentukan prioritas remidialnya.
2) Strategi untuk mencapainya (dengan apa?)
Dengan cara menyiapkan evaluasi hasil belajar, menentukan jenjang belajar dan strategi instruksional, rancangan instruksional (guru), dan dengan strategi instruksional.
3) Evaluasi keberhasilannya (bilamana sampai tujuan?)
Dengan menyusun test, mengevaluasi formatif, dan mengevaluasi sumatif.
B. Model Bela H. Banathy
Dengan cara: merumuskan tujuan, mengembangakan tugas, menganalisis kegiatan belajar, mendesain sistem instruksional, melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil, dan mengadakan perbaikan.
C. Model Mengembangkan PPSI
Model ini adalah gabungan dari perencanaan pengajaran versi Performance Based Teacher Education (PBTE), perencanaan pengajaran sistematis, dan perencanaan pengajaran model Davis. Dan di Indonesia dikembangkan menjadi PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Model pengembangan instruksional PPSI ini memiliki 5 langkah yaitu : perumusan masalah, pengembangan alat evaluasi, kegiatan belajar, pengembangan program kegiatan, dan pelaksaan.
D. Model J.E. Kemp
Menurut Kemp pengembangan instruksional atau desain instruksional terdiri dari : menentukan tujuan instruksionalumum (TIU), menganalisis karakteristik siswa, menenetukan tujuan instruksional khusus (TIK),menentukan materi pelajaran, menetapkan penjagaan awal, menentukan strategi belajar mengajar, mengkoordinir sarana penunjang, mengadakan evaluasi.
E. Model Gerlack dan Ely
Menurut Gerlack dan Ely ada beberapa langkah dalam mengembangkan instruksional, terdiri dari : merumuskan instruksional, menentukan isi materi pelajaran yang telah disesuaikan dengan TIK, menentukan kemampuan awal peserta didik dengan melakukan pretes, mengemukakan teknik dan strategi, pengelompokan belajar, menentukan media instruksional yang sesuai, menentukan ruang, memilih media instruksional yang sesuai, mengevaluasi hasil belajar, menganalisis umpan balik.
F. Model IDI ( Instructional Development Institute)
Ada tiga tahapan besar pendekatan sistem, yaitu pembatasan (define), pengembangan (develop), dan evaluasi (evaluate).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar